Pages

Subscribe:

Selasa, 06 Maret 2012

latar belakang, kurikulum dan ruang lingkup pembelajaran tematik



LATAR BELAKANG, KURIKULUM, SERTA RUANG LINGKUP
 PEMBELAJARAN TEMATIK
Makalah ini di susun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pembelajaran Tematik”

























DI SUSUN OLEH :
LAILATUL BADRIYAH (210609039)

DOSEN PENGAMPU :
KURNIA HIDAYATI


JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH MADRASAH IBTIDAIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN PONOROGO) 
2012


BAB I
PENDAHULUAN

Pembelajaran tematik bisa disebut sebagai pembelajaran terpadu yang mana dalam pelaksanaannya kegiatan penyampaian materi pelajaran disajikan secara terpadu atau terintegrasi antara satu mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Dan kita sebagai calon guru perlu paham dan tahu tentang mengapa pembelajaran tematik ini diadakan atau latar belakang munculnya pembelajaran tematik serta apa saja ruang lingkup dari pembelajaran tematik perlu kita kaji secara mendalam agar kita tidak salah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran demi tersampainya materi pelajaran pada siswa dengan tepat sehingga tujuan dari pembelajaran dapat terlaksana.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Siswa-siswi pada madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar pada kelas satu, dua, dan tiga, termasuk pada usia dini, yang artinya pada usia ini perkembangan kecerdasan seperti IQ (Intelegency Quetions), EQ ( Emotional Quetions) dan SQ (Social Quetions) tumbuh dan berkembang dengan pesatnya, namun pada umumnya tingkat perkembangannya masih memandang bahwa segala sesuatu itu merupakan satu kesatuan (holistik) dan mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Maka proses pembelajaran masih tergantung pada objek-objek konkret atau nyata dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Namun dalam pelaksanaanya masih banyak MI / SD yang melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah. Misalnya agama Islam 2 jam pelajaran, Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, IPA 2 jam pelajaran, dan seterusnya. Bahkan dalam penyampaian isi matrinya cenderung monoton tanpa mengaitkan dengan matreri mata pelajaran lainnya, padahal seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa pada siswa-siswi MI / SD pada kelas satu, dua, dan tiga pola pikir mereka masih bersifat holistik (kesatuan), maka pola pembelajaran terpisah tentu akan menyulitkan mereka, sehingga berdampak pada tingginya angka siswa-siswi mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
Perlu kita ketahui bahwa, angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD/ MI jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%. Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit Taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu Sekolah Dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.
Maka dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa permasalahan yang berkaitan tentang tingginya angka mengulang kelas  serta putus sekolah di usia dini di latar belakangi oleh pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang belum sesuai dengan pola pikir anak pada usia dini yang berpola pikir masih holistic, serta berkaitan dengan kurangnya kesiapan pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-Kanak pada peserta didik awal yang akan memasuki tingkat MI / SD. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil, pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu Sekolah Dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.
Sementara itu dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik jika dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak sebelumnya. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
Maka berdasarkan paada pertimbangan pemikiran diatas dan guna implementasi Standar Isi (SI) pendidikan yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal bawah SD / MI yakni kelas satu, dua dan tiga akan lebih tepat jika dikelola dalam pembelajaran terpadu / terintegrasi melalui pendekatan pembelajaran tematik pada semua mata pelajaran. Untuk itu diperlukan pedoman pelaksanaan model pembelajaran tematik untuk kelas I hingga kelas III  pada tingkat SD/MI. Hal ini penting, untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret.
B.  Ruang Lingkup Pembelajaran Tematikik
Adapun ruang lingkup pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran inti pada kelas satu, dua, dan tiga Madrasah Ibtidaiyah / Sekolah Dasar, yaitu meliputi ; Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu  Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.
C.      Kurikulum Pembelajaran Tematik
Sebelum kami berikan contoh tentang kurikulum pembelajaran tematik maka kita perlu kembali mengingat tentang pengertian dari kurikulum, yang mana kurikulum bisa diartikan sebagai susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Maka disini kami akan memberikan contoh kurikulum pembelajaran tematik yang sudah diterapkan pada suatu sekolah tertentu yaitu pada SDN Sambirejo Geger Madiun yang telah menerapkan pembelajaran tematik pada kurikulumnya.
Adapun struktur kurikulum SDN Sambirejo Geger Madiun disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut :
Ø Kurikulum SDN Sambirejo Geger Madiun memuat 11 mata pelajaran, 3 muatan lokal dan 3 pengembangan diri.
Ø Substansi mata pelajaran IPA dan IPS merupakan ”IPA terpadu” dan ”IPS terpadu”
Ø Pembelajaran pada kelas I s/d III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada kelas IV s/d VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.
Ø Alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 35 menit.
Ø Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 52 minggu.
STRUKTUR KURIKULUM SDN SDN SAMBIREJO GEGER MADIUN
Komponen
Kelas dan Alokasi Waktu
I
II
III
IV, V, dan VI
A. Mata Pelajaran
Pembelajaran
Tematik

1.    Pendidikan Agama
3
2.    Pendidikan Kewarganegaraan
2
3.    Bahasa Indonesia
6
4.    Matematika
6
5.    Ilmu Pengetahuan Alam
4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial
3
7.    Seni Budaya dan Ketrampilan
4
8.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
4
B. Muatan Lokal

1.    Bahasa Jawa
2
2.    Bahasa Inggris
2
3.    Pendidikan Lingkungan Hidup
2
Jumlah
30
31
32
38



C. Pengembangan Diri

1.   Pramuka

2
2.   Kesenian (Drum Band, Hadroh dan Karawitan)

6
3    Olah Raga

2
Jumlah

10






BAB III
KESIMPULAN

Pembelajaran tematik perlu diterapkan pada peserta didik SD / MI pada kelas bawah, yaitu pada kelas satu, dua, dan tiga, yang mana pada usia tersebut pola pikir mereka masih bersifat holistik / kesatuan maka model pembelajara terpadu atau tematik perlu diterapkan agar mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, sehingga jika mereka dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik maka diharapkan tingginya angka mengulang kelas serta putus sekolah dapat terkurangi.
Adapun ruang lingkup pembalajaran tematik SD / MI meliputi seluruh mata pelajaran inti yang meliputi  Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu  Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.



DAFTAR PUSTAKA

Buku paket Lapis PGMI Pembelajaran Tematik paket 1

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  SDN Sambirejo Geger Madiun


9 komentar:

  1. menurut saya latar belakang pembelajaran tematik yang telah di jabarkan oleh saudari laila sudah cukup jelas namun alangkah baiknya jika di cantumkan contoh bagaimana penyampaian pembelajaran tematik.tri lestari PG-B

    BalasHapus
    Balasan
    1. makalah tematik diatas sudah bagus, tetapi berikan kelebihannya dan kekurangan. dwi wahyuningdyah

      Hapus
    2. iya terima kasih atas comenntnya, nanti waktu presentasi akan dijabarkan tentang kelebihan dan kekurangan pembelajaran tematik

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
  2. ok temsn, ntar waktu presentasi akan aku kasih contonya............

    BalasHapus
  3. saya mengutip dari makalah saudari bahwa di makalah dituliskan tentang :
    "Namun dalam pelaksanaanya masih banyak MI / SD yang melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah. Misalnya agama Islam 2 jam pelajaran, Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, IPA 2 jam pelajaran, dan seterusnya"
    yang saya ketahui bahwa pembelajaran tematik sudah termuat dalam kurikulun SD/MI, jadi dari keterangan tersebut dalam pelaksanaannya ada beberapa sekolah yang tdk mengikuti kurikulum tersebut,, menurut anda ap kendalanya dari seklh tersebut sehingga dalam prakteknya pembelajaran tematik tidak diterapkan,! trims

    BalasHapus
  4. makalah ini sudah cukup bagus, namun alangkah baiknya diberi footnote

    BalasHapus
  5. Ukhti,, Adakah tokoh atau pihak tertentu yang pertama kali mencetuskan pembelajaran tematik?? Apa teori atau dasar yang digunakannya??

    BalasHapus